Pernikahan Putri Bungsu Raja Yogyakarta GKR Bendara dan KPH Yudhanegara

 
Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas telah menikahkan putrid bungsunya, Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni yang kemudian bergelar GKR ( Gusti Kanjeng Ratu ) Bendara dengan seorang lelaki yang berasal dari Lampung yang notabene berasal dari luar Kerajaan dan jauh dari darah Kebangsawanan. Pria beruntung itu bernama Achmad Ubaidillah yang kemudian diberikan gelar KPH ( Kanjeng Pangeran Harya ) Yudhanegara.
Pantaslah pesta pernikahan kerajaan atau lebih dikenal dengan Pawiwahan Ageng ini disebut sebagai pernikahan agung. Acara ini tak kalah megahnya dengan pernikahan agung Pangeran William dengan Kate Middleton di Inggris. Keberadaan Kraton Yogyakarta tak hanya sebagai pewaris dari dinasti Mataram, namun juga sebagai pusat, pengembang, penjaga, dan pelestari Budaya Jawa
Sebagaimana di berbagai Negara yang mempunyai kerajaan dalam seremoni pernikahannya, pasti akan memperhatikan kental tradisi masing-masing. Seperti halnya dalam upacara pernikahan Kerajaan Yogyakarta ini. Banyak sekali rangkaian upacara yang sarat akan makna dan filosofinya. Rangkaian upacara adat yang dilalui seperti, Tuguran nyantri, Siraman, Dhahar klimah, Tantingan, Ijab Kabul, Panggih, Pondhongan, dll, juga tak lupaada satu prosesi yang cukup unik yaitu Ngedan, ini dilakukan oleh abdi dalem yang berdandan serba aneh dan compang-camping disertai tat arias yang mirip dengan seorang badut. Prosesi ini bisa dimaknai sebagai keseimbangan dalam kehidupan yang terus terjaga. Pernikahan Agung ini merupakan bukti kekayaan Budaya Jawa – dalam hal ini adalah Kebudayaan Yogyakarta yang mewakili kekayaan kebudayaan Indonesia. Tak heran jika rakyat Yogyakarta sangat bangga dan menyambut dengan meriah Pernikahan Agung ini.
Setelah melewati semua prosesi di dalam kerajaan, tibalah saat resepsi yang berbeda dengan pernikahan Kraton sebelumnya. Resepsi tak dilaksanakan di dalam benteng istana, namun di Bangsal Kepatihan yang merupakan kantor Gubernur Yogyakarta. Inilah yang dianggap sebagian besar masyarakat Yogyakarta sebagai hal yang istimewa, karena itu juga Yogyakarta mendapat sebutan Daerah Istimewa Yogyakarta
Rombongan pengantin akan kirab menuju Kepatihan menggunakan kereta kencana. Kereta yang digunakana yakni kereta bernama Jong Wiyat ( kereta yang diproduksi di Belanda pada tahun 1881 dan sampai sekarang masih disimpan di museum Kraton ). Saat kirab ini banyak sekali warga dan para wisatawan berebut untuk menyaksikan.
Sore itu sekitar pukul 14.00, alun-alun utara dan sepanjang Jalan Malioboro sudah dipadati lautan manusia. Mereka berkerumun demi melihat pasangan dari putri Raja Yogyakarta yang akan dikirab. Berbeda halnya dengan para wisatawan, mereka hadir untuk menyaksikan seperti apa kemegahan Royal Weddingnya Yogyakarta ini.
Tak hanya mengenai kemegahan kirab yang melibatkan para pangeran dengan kereta kebesaran Kerajaan dan para bergada Kraton. Kemegahan ini juga bisa tampak bagi warga dari berbagai golongan. Peran masyarakat juga diwujudkan oleh berbagai kelompok, komunitas dan organisasi yang menyediakan berbagai maca makanan dan minuman yang tersaji dalam gerobak angkringan dan dapat dinikmati secara gratis.
Semua makanan dan minuman yang gratis ini disiapkan secara sukarela dengan maksud untuk mengucapkan selamat atas pernikahan GKR Bendara dan KPH Yudhanegara. Pada pukul 16.30, ratusan ribu manusia yang berada di sepanjang jalan Malioboro semakin histeris ketika rombongan pengantin melintas. Warga saling berteriak dan melambaikan tangan menyapa pasangan tersebut sambil berteriak memanggil “Mas Ubay…Jeng Reni”. Senyum sapa ramah dan lambaian tangan yang juga dilayangkan oleh pasangan pengantin itu semakin membuat warga bahagia dan suasana semakin meriah. Menjelang malam, rombongan kirab pengantin itu tiba di Bangsal Kepatihan.

Wayang - Ajaran Tentang Kehidupan Manusia

Sebagian besar cerita wayang berasal dari India yaitu Mahabarata dan Ramayana, namun begitu besar peran wayang di dalam kehidupan orang Jawa. Mungkin pantas jika wayang adalah identitas manusia Jawa. Bagi orang Jawa cerita-cerita dalam wayang itu menyimbolkan perilaku dan watak manusia dalam mencapai tujuan hidup. Dari pertunjukan wayang, orang dapat mendengarkan ajaran-ajaran berharga tentang kehidupan.
Asal-usul
Wayang adalah sebuah karya seni yang ada di Indonesia dan saat ini sudah dinobatkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Wayang dapat diartikan sebagai gambar atau tiruan manusia yang terbuat dari kulit, kayu atau bahan lainnya untuk menunjukkan lakon. Terdapat seseorang yang menceritakan kisah lakon dalam wayang yang disebut dalang. Diambil dari kata “ayang-ayang” yang berarti bayangan. Bayangan dari kehidupan manusia yang tercermin dalam lakon yang diperankan oleh seorang dalang dan diiringi dengan musik yang biasanya berupa gamelan.
Jika kita menyebut wayang, pikiran kita akan tertuju pada orang Jawa.  Lalu, bagaimana wayang bisa dikenal orang jawa? Pada jaman kerajaan Kediri sudah dikenal adanya wayang yaitu wayang beber. Wayang  berbentuk lembaran kain yang dilukis dan diceritakan oleh sang Dalang yang ceritanya diambil dari kisah mengenai Keraton Kediri, Ngurawan, Singasari atau sering disebut lakon Panji.
Wali songo hadir ke tanah jawa untuk menyebarkan ajaran islam. Saat itu masyarakat jawa masih beragama Hindu-Budha.  Agar ajaran islam dapat dengan mudah disebarkan, maka para wali membuat format wayang untuk berdakwah karena orang Jawa sangat suka dengan kesenian. Maka jadilah wayang kulit seperti yang kita kenal saat ini.
Ragam wayang
                Orang sering menghubungkan kata “wayang” dengan “bayang” karena dilihat dari pertunjukan wayang kulit yang memakai layar yang disorot dengan lampu blencong dan muncul bayangan-bayangan.   Ternyata banyak sekali ragam wayang di Indonesia ini. Tak hanya wayang kulit yang dipertunjukkan dengan menampilkan bayangan di layar.
                Banyak sekali ragam bentuk wayang di Indonesia. Kalau disebutkan satu per satu mungkin akan sangat banyak, namun mari coba menyebutkan beberapa ragamnya. Ada wayang beber, wayang orang, wayang golek, wayang kancil, wayang ukur dan masih banyak lagi.
 
Kali ini secara khusus Djoglo akan membicarakan tentang sosok Dewi Sinta dan Srikandi yang sosoknya kami gunakan sebagai foto sampul edisi perdana Djoglo. Dua lakon wanita dalam wayang yang berasal dari dua cerita berbeda pula. Sinta dari cerita Ramayana dan Srikandi dari cerita Mahabarata. Kedua tokoh ini mencerminkan teladan sifat wanita. Bagaimanakah teladan mereka yang dicerminkan melalui cerita wayang?
Dewi Sinta
                Di dalam cerita Ramayana, sinta adalah istri dari Rama Wijaya, yaitu pewaris tahta dari kerajaan Ayodya. Dalam kisah Ramayana, Dewi Sinta adalah istri dari Prabu Rama Wijaya. Sinta menjadi lambang kesetiaan. Tokoh ini juga menjadi lambang kekokohan hati. Lambang perempuan yang kukuh dalam pendirian. Tidak mudah goyah oleh goyangan dan tantangan.
                Dalam cerita Ramayana, diceritakan bahwa Sinta diculik oleh Rahwana dan dibawa ke Kerajaan Alengka. Di sana, Sinta dibujuk oleh Rahwana agar mau untuk menjadi istrinya tetapi dia menolak dan tetap setia dengan suaminya yaitu Sri Rama. Akhirnya Alengka diserang oleh pasukan dari Ayodya yang dipimpin oleh Sri Rama. Sebelumnya Sri Rama telah mengutus Hanoman untuk memasuki Alengka untuk menjadi mata-mata. Karena serangan itu Alengka menjadi hancur dan Sinta berhasil selamat.
                Saat bisa kembali bertemu, Sri Rama sang suami meragukan kesucian Sinta. Rama mencurigai bahwa Sinta telah dinodai oleh Rahwana. Rama berkata kepada Sinta “masuklah ke dalam api itu, jika kamu masih suci maka kamu tak akan terbakar dan jika kamu sudah tak suci lagi kau akan binasa” . Demi membangun kembali kepercayaan suami terhadap dirinya, dia rela mematuhi perintah sang suami untuk membakar diri. Sinta terbukti masih suci karena ia tak terbakar oleh api. Sejak saat itu Rama percaya dan mereka kembali saling mencintai. Cerita itu dapat kita temui dalam fragmen Ramayana berjudul “Sinta Obong”.
                Sosok wanita yang lembut, penurut, tulus, berbudi halus, setia, penuh cinta, berbakti dan berani mati. Tetapi dibalik itu tergambar juga Sinta sebagai sosok yang menggantungkan kebahagiaannya pada Sri Rama. Wanita yang lemah,selalu pasrah. Dari cerita tersebut, alangkah baiknya jika wanita masa kini juga mencontoh teladan Dewi Sinta. Wanita yang patuh, setia dan rela melakukan apapun atas dasar cinta.
Srikandi 
Sepertinya hampir tidak ada orang di Nusantara ini yang tidak pernah mendengar kata tentang Srikandi. Nama Srikandi biasanya digunakan sebagai julukan kepada kaum wanita yang berjuang terutama dalam hal memperjuangkan kehormatan diri, keluarga, negara dan bangsa. Wanita yang melakukan tugas-tugas yang biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki.
Siapa atau apa sesungguhnya Srikandi itu? Mungkin ada juga yang belum tahu. Mungkin hanya sebatas mengetahui bahwa Srikandi adalah tokoh wanita cantik dan bertubuh ramping yang ada dalam kisah pewayangan Mahabarata. Srikandi adalah putri kedua dari Prabu Drupada, raja dari negeri Pancala dengan permaisuri Dewi Gandawati. Dewi Srikandi sangat menggemari kegiatan keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Itulah sebabnya mengapa dalam visualisasinya banyak yang menampilkan Srikandi sedang membawa panah. Tapi berbeda dengan visualisasi Srikandi Gaya Yogyakarta, Srikandi divisualisasikan dengan membawa keris. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Konon, ketrampilan memanah Srikandi tak tertandingi oleh siapapun.
Srikandi menjelma menjadi ksatria wanita yang sangat disegani. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kerajaannya dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuda, Dewi Srikandi tampil sebagai panglima perang Pandawa menggantikan Resi Seta, satria yang telah gugur untuk menghadapi Resi Bisma, guru dari Kurawa dan Pandawa. Dengan panah bernama Hrusangkali, Srikandi dapat mengalahkan Resi Bisma. Akhir riwayat, Dewi Srikandi tewas dibunuh oleh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Astina setelah berakhirnya perang Bharatayuda.
Wanita dikenal lemah lembut, keibuan, cantik, dan emosional. wanita adalah sosok manusia yang ditakdirkan untuk melahirkan keturunan, yang tidak bisa dilakukan oleh pria. Menurut anggapan lama, wanita hanya sebatas ibu rumah tangga yang bertanggung jawab untuk mengasuh dan mendidik anak, dan melayani suami. Dengan adanya perkembangan jaman, saat ini wanita tak hanya sebatas melakukan anggapan lama tersebut. Wanita pun bisa menjadi seorang pemimpin yang cukup disegani dan mempunyai ketangguhan dan kemampuan hebat seperti Srikandi. Itulah sebabnya mengapa banyak pemimpin dan pejuang wanita dijuluki sebagai Srikandi.

PAWIWAHAN AGENG

Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas telah menikahkan putrid bungsunya, Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni yang kemudian bergelar GKR ( Gusti Kanjeng Ratu ) Bendara dengan seorang lelaki yang berasal dari Lampung yang notabene berasal dari luar Kerajaan dan jauh dari darah Kebangsawanan. Pria beruntung itu bernama Achmad Ubaidillah yang kemudian diberikan gelar KPH ( Kanjeng Pangeran Harya ) Yudhanegara.
Pantaslah pesta pernikahan kerajaan atau lebih dikenal dengan Pawiwahan Ageng ini disebut sebagai pernikahan agung. Acara ini tak kalah megahnya dengan pernikahan agung Pangeran William dengan Kate Middleton di Inggris. Keberadaan Kraton Yogyakarta tak hanya sebagai pewaris dari dinasti Mataram, namun juga sebagai pusat, pengembang, penjaga, dan pelestari Budaya Jawa
Sebagaimana di berbagai Negara yang mempunyai kerajaan dalam seremoni pernikahannya, pasti akan memperhatikan kental tradisi masing-masing. Seperti halnya dalam upacara pernikahan Kerajaan Yogyakarta ini. Banyak sekali rangkaian upacara yang sarat akan makna dan filosofinya. Rangkaian upacara adat yang dilalui seperti, Tuguran nyantri, Siraman, Dhahar klimah, Tantingan, Ijab Kabul, Panggih, Pondhongan, dll, juga tak lupaada satu prosesi yang cukup unik yaitu Ngedan, ini dilakukan oleh abdi dalem yang berdandan serba aneh dan compang-camping disertai tat arias yang mirip dengan seorang badut. Prosesi ini bisa dimaknai sebagai keseimbangan dalam kehidupan yang terus terjaga. Pernikahan Agung ini merupakan bukti kekayaan Budaya Jawa – dalam hal ini adalah Kebudayaan Yogyakarta yang mewakili kekayaan kebudayaan Indonesia. Tak heran jika rakyat Yogyakarta sangat bangga dan menyambut dengan meriah Pernikahan Agung ini.
Setelah melewati semua prosesi di dalam kerajaan, tibalah saat resepsi yang berbeda dengan pernikahan Kraton sebelumnya. Resepsi tak dilaksanakan di dalam benteng istana, namun di Bangsal Kepatihan yang merupakan kantor Gubernur Yogyakarta. Inilah yang dianggap sebagian besar masyarakat Yogyakarta sebagai hal yang istimewa, karena itu juga Yogyakarta mendapat sebutan Daerah Istimewa Yogyakarta
Rombongan pengantin akan kirab menuju Kepatihan menggunakan kereta kencana. Kereta yang digunakana yakni kereta bernama Jong Wiyat ( kereta yang diproduksi di Belanda pada tahun 1881 dan sampai sekarang masih disimpan di museum Kraton ). Saat kirab ini banyak sekali warga dan para wisatawan berebut untuk menyaksikan.
Sore itu sekitar pukul 14.00, alun-alun utara dan sepanjang Jalan Malioboro sudah dipadati lautan manusia. Mereka berkerumun demi melihat pasangan dari putri Raja Yogyakarta yang akan dikirab. Berbeda halnya dengan para wisatawan, mereka hadir untuk menyaksikan seperti apa kemegahan Royal Weddingnya Yogyakarta ini.
Tak hanya mengenai kemegahan kirab yang melibatkan para pangeran dengan kereta kebesaran Kerajaan dan para bergada Kraton. Kemegahan ini juga bisa tampak bagi warga dari berbagai golongan. Peran masyarakat juga diwujudkan oleh berbagai kelompok, komunitas dan organisasi yang menyediakan berbagai maca makanan dan minuman yang tersaji dalam gerobak angkringan dan dapat dinikmati secara gratis.
Semua makanan dan minuman yang gratis ini disiapkan secara sukarela dengan maksud untuk mengucapkan selamat atas pernikahan GKR Bendara dan KPH Yudhanegara. Pada pukul 16.30, ratusan ribu manusia yang berada di sepanjang jalan Malioboro semakin histeris ketika rombongan pengantin melintas. Warga saling berteriak dan melambaikan tangan menyapa pasangan tersebut sambil berteriak memanggil “Mas Ubay…Jeng Reni”. Senyum sapa ramah dan lambaian tangan yang juga dilayangkan oleh pasangan pengantin itu semakin membuat warga bahagia dan suasana semakin meriah. Menjelang malam, rombongan kirab pengantin itu tiba di Bangsal Kepatihan

Kuliner : Vel tempor ultrices

Vel natoque hac platea, lacus. Nisi sit dis porta. Dapibus, in. Hac turpis est scelerisque in, ac, eu! Sagittis in magna dolor integer magna in turpis dis! Dis, dignissim a, lundium phasellus porta dis, in aliquet, elementum nec! Habitasse a eu egestas amet aliquam, sit, diam natoque a nunc placerat magna, enim in tristique. Enim augue amet mus pellentesque a, elementum sagittis sociis tortor, egestas, nunc ultrices sed porttitor velit rhoncus, amet, nisi sed ut, phasellus urna, tortor aliquet elit turpis scelerisque rhoncus rhoncus! Cursus natoque non facilisis sit nec aliquet nunc vut penatibus cursus ut! Penatibus proin! Adipiscing, placerat parturient facilisis nascetur vel ac dolor nisi tortor ac urna lorem sed? Dignissim tempor urna augue, ac? Nec risus mid.
Pellentesque integer ac magna augue in dis porttitor ac mus adipiscing? Cum purus pulvinar augue augue integer, dis tortor lundium lorem vel turpis a lacus mattis in, dictumst pid. Tempor enim? Tortor tincidunt, placerat aliquet eu eu odio lacus! In! Habitasse proin elit turpis scelerisque in, tristique! Porttitor tempor, odio! Diam ac mauris, turpis, lorem in pid sociis tortor odio sed? Pulvinar? Penatibus rhoncus, magna, natoque tempor? In egestas elementum mid, penatibus augue scelerisque? Non nisi nec lacus penatibus cursus nascetur porta tincidunt pulvinar? Eu montes amet massa mus, eros augue purus hac, sed urna cum porta sit nunc ultricies ultricies in pid? Auctor purus pulvinar arcu! Eu lacus parturient penatibus dignissim porta sit nascetur etiam integer! Auctor nisi.
Elit tincidunt nunc tempor tristique, duis integer dignissim lacus adipiscing! Odio eu purus lacus! Urna. Cursus pellentesque! Sed odio dolor facilisis elementum mid? A integer, dictumst quis natoque integer, est penatibus nec et sociis adipiscing! Cras enim, ut porttitor, tortor massa lacus velit dignissim elementum et in! Placerat, montes rhoncus purus magna tristique duis, ac! Montes odio phasellus, placerat, ac tincidunt! Ac cum nec, penatibus, lorem et dis ac duis sit, nunc integer etiam, vel? Vut integer sagittis aliquet tortor nunc augue dignissim. Rhoncus magna, augue est a sed scelerisque proin, proin dignissim nunc porttitor. Lorem vel auctor quis, augue aenean, mauris, mauris magnis nisi purus magna, ac ac risus purus, eu ut? Turpis augue magna rhoncus dignissim sociis.
Sed mattis lundium, ultrices quis scelerisque nisi. Ut integer augue rhoncus, sagittis natoque nisi ultrices augue arcu? Habitasse eu lundium risus lorem sociis dictumst velit tincidunt, pellentesque, pulvinar sit. Egestas placerat nunc sed integer? Mus in ultricies egestas tempor, scelerisque dignissim! Rhoncus enim in! Nec magnis! Lundium? Duis arcu, et, pulvinar dictumst phasellus vel! Mauris! Etiam odio pellentesque tincidunt. Pellentesque sed vel sagittis lorem? Rhoncus, adipiscing sagittis, mus sit, elit. In, scelerisque. Turpis nunc, augue dis. Urna, et odio! Auctor et, mid aenean tempor vel porttitor in! Vel tempor ultrices lorem nec mauris sit velit lundium et mattis, auctor! Pid duis platea pellentesque. Habitasse rhoncus nec lacus in enim et ac, sit platea tortor lorem nunc pellentesque ac placerat.
Placerat, dignissim tincidunt! Integer odio. Odio non. Rhoncus vel enim porta augue magnis, pulvinar, placerat elit elementum urna odio lorem nunc et integer! Proin tincidunt eros? Aenean turpis amet montes penatibus? Elementum quis a pulvinar! Platea nunc! Enim mus, ac pulvinar ac in, adipiscing ac dictumst vel, dis dictumst, turpis? Facilisis in, arcu, magnis cum habitasse non integer natoque integer elit augue ultricies, dapibus purus habitasse in a nisi ut pellentesque, a elementum phasellus porttitor elementum ac, augue mus sed purus turpis eros augue non mid! Nisi quis elit dis sed non dictumst! Phasellus augue magnis integer pid sagittis magna ultricies adipiscing vel in? Integer elementum rhoncus elementum nunc velit urna, tempor sociis, integer sagittis habitasse velit dignissim integer.

Istimewa: Purus mus adipiscing in nunc dis

Purus mus adipiscing in nunc dis nec a lacus et, magna adipiscing dis velit. Cum placerat, enim mid etiam rhoncus? Et a augue pid ultricies egestas sagittis. Platea hac egestas nec rhoncus dictumst dis in turpis sed pulvinar aenean dolor. Penatibus placerat elementum turpis, ut magna et risus natoque? Aenean lorem cras scelerisque velit nec dapibus. Et platea dis adipiscing! Velit lorem integer turpis turpis. Risus, magnis nunc adipiscing a montes turpis. Vut mattis mus facilisis? Cursus nunc ut dignissim adipiscing aliquam pulvinar sit enim adipiscing odio vel a eros? Sagittis nec ut et habitasse cum odio non, sed parturient cras turpis odio nec turpis, pellentesque ac in aenean massa. Nunc vel, nec mid arcu massa, pulvinar, scelerisque integer et.
Massa risus massa augue purus! Pulvinar augue turpis hac, et placerat sed habitasse integer habitasse urna habitasse! Ultrices nunc tincidunt in amet arcu, dis ultricies sit phasellus lectus scelerisque phasellus aliquet, rhoncus mattis aliquet dapibus! Lacus tempor aliquet scelerisque sagittis? Velit eros elementum lacus aliquet magna ultrices! Ac magnis pellentesque, ut tincidunt a. Diam a? A dapibus et ridiculus, tincidunt quis, lundium, in etiam, lacus porta dolor in in, tincidunt tincidunt magna nec ut? Sociis dolor mattis? Lectus purus! Non vel, augue ac magna porttitor ac adipiscing rhoncus? Pellentesque nisi magna magna non lorem lundium, enim scelerisque magnis scelerisque? Integer elit! Turpis tincidunt, amet? Egestas sed urna urna parturient lorem turpis! Ultricies. Massa penatibus auctor aliquet, lacus rhoncus pid.
Augue dignissim lorem pid porttitor magna, rhoncus parturient sociis. Nascetur amet augue amet platea turpis nascetur urna! Natoque, odio! Odio hac scelerisque porta. Velit phasellus, porttitor habitasse, pulvinar adipiscing non, purus porttitor. Odio et arcu non porta sociis odio cum nec vel dignissim a mid urna in, urna odio porta. Aliquam phasellus cum, a magna! Mattis? Nunc! Aenean mid, augue? Porta montes et, turpis augue dignissim a, facilisis porta augue mauris urna ridiculus ultrices montes sit phasellus? Rhoncus pid arcu dis, proin vut mid odio non vel, velit urna, facilisis, platea nec vel nunc dignissim! Porttitor vel! Eu risus dignissim vut penatibus lectus augue! Vel est egestas velit, amet eu? Diam pellentesque pid? In diam enim aliquet magnis? Amet.
Et phasellus montes! Tincidunt placerat sit urna! Mus sed enim sit, et elementum, aliquam, natoque? Odio vel! Sit est elementum sociis arcu turpis enim, et enim in tincidunt in, scelerisque dictumst ac magnis et in! Porta tempor urna mattis vel porttitor pellentesque aliquet lorem rhoncus nec scelerisque ac? Rhoncus magna placerat sed quis turpis massa aenean nisi magnis massa? Elementum integer duis parturient aenean. Non massa mid ut montes urna massa, nunc integer! Elit nisi odio, turpis non porta, ultrices, nascetur tincidunt, vel scelerisque integer! Sagittis est placerat montes? Turpis odio pulvinar placerat amet amet, placerat in enim diam magna pulvinar! Sociis urna aenean, odio! Pid risus duis a, pellentesque hac montes dapibus. Nec, ridiculus magna. A ultrices quis.
Elementum a sagittis vel in tortor dis? Amet hac, lectus phasellus odio rhoncus sit, aenean placerat tincidunt est magna placerat integer ac montes! Vel, etiam. Aliquam est sed adipiscing, sed lacus diam sed et scelerisque amet odio! Vel eros nec tempor? Pellentesque et. Placerat mattis a ultricies? Cursus, facilisis ac sed, nisi vel auctor odio lectus? Adipiscing purus sed, velit lorem amet mus? Lectus egestas. Placerat porttitor tortor elit! Duis ac adipiscing! In, augue. Nec ultricies enim! In, massa, sagittis porta amet, non porttitor montes, amet dapibus et placerat dapibus ultrices turpis! Dolor porta ut. Porttitor sed ut risus. Odio et, turpis lacus enim, ridiculus parturient magnis. Arcu proin quis nec aliquam in, egestas dignissim elementum lacus sed tri

 
Dikirim pada Kamis, April 5, 2012 - 23:18

 
Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas telah menikahkan putrid bungsunya, Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni yang kemudian bergelar GKR ( Gusti Kanjeng Ratu ) Bendara dengan seorang lelaki yang berasal dari Lampung yang notabene berasal dari luar Kerajaan dan jauh dari darah Kebangsawanan. Pria beruntung itu bernama Achmad Ubaidillah yang kemudian diberikan gelar KPH ( Kanjeng Pangeran Harya ) Yudhanegara.

Submitted at Kamis, Maret 1, 2012 - 11:12

Sebagian besar cerita wayang berasal dari India yaitu Mahabarata dan Ramayana, namun begitu besar peran wayang di dalam kehidupan orang Jawa. Mungkin pantas jika wayang adalah identitas manusia Jawa. Bagi orang Jawa cerita-cerita dalam wayang itu menyimbolkan perilaku dan watak manusia dalam mencapai tujuan hidup.

Submitted at Kamis, Maret 1, 2012 - 11:11

Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas telah menikahkan putrid bungsunya, Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni yang kemudian bergelar GKR ( Gusti Kanjeng Ratu ) Bendara dengan seorang lelaki yang berasal dari Lampung yang notabene berasal dari luar Kerajaan dan jauh dari darah Kebangsawanan.

Submitted at Selasa, Februari 28, 2012 - 14:12

Vel natoque hac platea, lacus. Nisi sit dis porta. Dapibus, in. Hac turpis est scelerisque in, ac, eu! Sagittis in magna dolor integer magna in turpis dis! Dis, dignissim a, lundium phasellus porta dis, in aliquet, elementum nec! Habitasse a eu egestas amet aliquam, sit, diam natoque a nunc placerat magna, enim in tristique.

Submitted at Selasa, Februari 28, 2012 - 12:46

Purus mus adipiscing in nunc dis nec a lacus et, magna adipiscing dis velit. Cum placerat, enim mid etiam rhoncus? Et a augue pid ultricies egestas sagittis. Platea hac egestas nec rhoncus dictumst dis in turpis sed pulvinar aenean dolor. Penatibus placerat elementum turpis, ut magna et risus natoque? Aenean lorem cras scelerisque velit nec dapibus. Et platea dis adipiscing!

Submitted at Selasa, Februari 28, 2012 - 11:49

Porta elit massa enim. Tristique! Ac, platea! Nisi quis est odio pid. Nascetur non. Placerat arcu mauris ridiculus! Cras aliquam tempor aliquet ut pellentesque! Urna ridiculus velit ut urna integer, mus nisi et! Purus, arcu vel.

Submitted at Selasa, Februari 28, 2012 - 11:43

Elit in risus pulvinar porttitor dolor, arcu aenean, mid, augue, pid parturient integer a pulvinar dolor arcu pulvinar! Ac ac? Enim dolor, risus dolor. Odio tempor adipiscing ac. Duis dignissim penatibus cum! Purus diam? Magna penatibus, duis in dictumst, lundium dapibus turpis urna integer habitasse lundium enim nec habitasse hac habitasse a.